Kamis, 24 Oktober 2013

SEJARAH PERKEMBANGAN CIVICS



SEJARAH PERKEMBANGAN CIVICS
Secara historis, mata pelajaran civics untuk pertama kalinya diperkenalkan di USA pada pertengahan tahun 1880-an (Budimansyah, 2008: 2). Civics dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah selama abad ke-19, ketika sebagian besar orang-orang berimigrasi ke Amerika Serikat yang berasal dari benua Eropa seperti Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, Italia, Spanyol, Portugis dan lainnya, dimana anak-anak mereka memiliki pengetahuan yang sedikit sekali tentang masalah Amerika. Itulah sebabnya pemerintah Amerika Serikat berusaha untuk mempersatukan bangsa Amerika melalui kegiatan pendidikan di sekolah.
Seorang ahli bernama Cresshore (1886), pada waktu itu mengartikan civics sebagai ‘ the science of citizenship ‘ atau Ilmu Kewarganegaraan, yang isinya mempelajari hubungan antar individu, dan antara individu dengan negara. Istilah civics dan civic education, ternyata lebih cenderung digunakan untuk mata pelajaran di sekolah yang memiliki tujuan utama mengembangkan siswa sebagai warga negara yang cerdas dan baik ( Somantri: 2001).
Winataputra, seperti yang dikutip oleh Budimansyah (2008; 4) merumuskan pengertian civics sebagai berikut:
‘’Civics is the study of government taught in the schools. It is an area of learning dealing with how democratic government has been and should be carried out, and how the citizen should carry out his duties and rights purposefully with full responsibility’’.
Civics atau kewarganegaraan sebagai suatu studi tentang pemerintahan yang dilaksanakan disekolah, yang merupakan mata pelajaran tentang bagaimana pemerintahan demokrasi dilaksanakan dan dikembangkan, serta bagaimana warga negara seyogyanya melaksanakan hak dan kewajibannya secara sadar dan penuh rasa tanggung jawab.
Menurut Stanley E. Dimond dan Elmer F. Peliger (1970: 5) secara terminologis civics diartikan studi yang berhubungan dengan tugas-tugas pemerintahan dan hak kewajiban warga negara. Pada tahun 1886 civics adalah suatu ilmu tentang kewarganegaraan yang berhubungan dengan manusia sebagai individu dalam suatu perkumpulan yang terorganisir dalam hubungannya dengan negara (Somantri, 1976: 45).
Civics sebagai ilmu kewarganegaraan bermanfaat bagi pemerintah dalam rangka mempersatukan warga negaranya. Dari gambaran tersebut, jelaslah bahwa kemunculan Civics dalam tatanan ilmu pengetahuan sangat bermanfaat bagi pemerintah dan warga negara. Civics sebagaimana ilmu politik, memiliki persyaratan-persyaratan ilmu sebagaimana diuraikan di atas, walaupun tidak dapat disamakan dengan ilmu pengetahuan alam. Sebagaimana diuraikan oleh A. Appadorai dalam bukunya The Substance of Politics, (Oxford University Press, London, 1952: 7):
‘’Politics, like other social sciences has a scientific character because the
scientific method is applicable to its phenomena, viz. The accumulation of
facts, the linking of these together in causal sequences and the
generalization from the latter of fundamental principles or laws’’.
Beberapa definisi civics berikutnya dikemukakan oleh Stanley Dimond dalam bukunya Civics For Citizens, yang menjelaskan arti civics dengan:
‘’Legal status in a country and the activities closely related to the political
function: voting, governmental, organization, holding of public office,
and legal rights responsibilities’’. (Stanley Dimond, Civics For Citizens,
New York, Lippencot,1970: 36)
Definisi tersebut lebih memperjelas definisi civics yang dikemukakan oleh Creshore, karena batasan yang dikemukakan oleh Stanley Dimond secara jelas telah memperinci hubungan antara warga negara dengan negara. Civics diartikan sama dengan legal status ataupun status formil dari warga negara, yang meliputi antara lain:
  • Political function, yaitu memperhatikan fungsi dan aktivitas struktur formal dari lembaga-lembaga politik.
  • Voting, yaitu masalah pemilihan umum sebagai ciri demokrastis.
  • Holding of public office, adalah pengaturan dari berbagai lembaga pemerintah yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
  • Govermental organization, yaitu organisasi pemerintah yang merupakan organisasi puncak dalam suatu negara yang dapat melaksanakan kehendaknya demi tercapainya tujuan negara.
  • Legal rights and responsibilities, adalah yang berkaitan dengan hak-hak legal serta tanggung jawab dari setiap warga negara dalam melaksanakan tugasnya.
Dari definisi tersebut terlihat dengan jelas bahwa inti yang dikembangkan dalam pelajaran civics adalah ‘’demokrasi politik’’. Definisi selanjutnya dikemukakan oleh Carter Van Good, dalam Dictionary of Education, yang menjelaskan pengertian civics dengan: ‘’the elements of political science or that branch of political science dealing with the rights and duties of citizens’’ (Carter Van Good: 71).
Dapat dijelaskan berdasarkan pendapat di atas bahwa civics merupakan unsur dari ilmu politik atau merupakan cabang dari ilmu politik yang berisi tentang hak dan kewajiban warga negara.
Memang benar bahwa setiap warga negara hendaknya memiliki pengetahuan politik tentang negaranya. Namun atas dasar pertimbangan psikologis, para pelajar belum memiliki kematangan berfikir tentang ilmu politik. Itulah sebabnya ilmu politik perlu disederhanakan sedemikian rupa sesuai dengan perkembangan pelajar (baik usia, perkembangan berfikir, pengalaman, lingkungan siswa maupun kebutuhan siswa), diberikanlah pelajaran civics pada tingkat persekolahan.
Definisi civics berikutnya dikemukakan oleh Turner, Long, Bowes dan Lott dalam bukunya civics (Citizen In Action yang mengemukakan: ‘’Civics is the study of the rights and the responsibilities of the people’’. Dari definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa, civics merupakan suatu studi tentang hak-hak dan kewajiban-kewajiban dari warga negara.
Demikian pula dari berbagai Ensiklopedia banyak dikemukakan batasan tentang civics sebagaimana uraian berikut ini. A.s. Hornby, EV. Gatenby dan W. Wakefield, dalam The Advence Learner’s Dictionary of Current English, menjelaskan bahwa civics merupakan ‘’Study of city government, the rights and duties of citizens, etc’’. (1963: 167). Civics merupakan suatu studi tentang pemerintahan kota, hak-hak serta kewajiban-kewajiban dari warga negara, dan sebagainya.
Selanjutnya The New Lexicon Webster International Dictionary, Volume One, The English Language Institute of America, Inc. Mengungkapkan: ‘’Civics (L. Civicus), n, the Political science of the rights and duties of citizens, and of civic affairs’’. (1977: 184).
Dari pendapat tersebut dapat diuraikan bahwa civics yang berasal dari bahasa Latin Civicus,merupakan ilmu politik yang membahas hak-hak dan kewajiban-kewajiban warga negara, serta masalah-masalah warga negara.
Dengan demikianlah jelaslah bahwa civics banyak membahas persoalan-persoalan warga negara, khususnya mengenai hak dan kewajiban warga negara dalam suatu negara. Berikutnya, salah satu ensiklopedia yang berbahasa Perancis, adalah Dictionnaire Encyclopedique Pour Tous, Petit Larousse Illustre, Librairie Larousse, yang menjelaskan bahwa:’’Civique, Qui concerne le citoyen’’. (1975 : 215).
Dari pandangan tersebut dapat diterjemahkan bahwa civics yang berasal dari bahasa Latin Civics, warga negara, yang membahas warga negara.
Dari uraian-uraian tersebut di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa Civics, diberikan pada tingkat persekolahan dengan maksud agar para pelajar mengenal, memahami serta mampu melaksanakan apa yang menjadi hak, maupun apa yang menjadi kewajibannya dalam hidup bernegara.
Banyak hal yang harus diketahui warga negara dalam kehidupan bernegara, yang antara lain meliputi:
  1. Bagaimana caranya setiap warga negara memperoleh hak-hanya, serta menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari.
  2. Bagaimana membina hubungan antara warga negara dengan negara, maupun hubungan antara warga negara dengan warga negara
  3. Bagaimana caranya setiap warga negara melaksanakan kewajibannya seperi membela negara dan lain sebagainya
  4. Bagaimana pemerintah memberi perlindungan terhadap hak azasi manusia bagi setiap warga negaranya
  5. Bagaimana caranya setiap warga negara mampu mengatur dirinya sendiri serta mengatur berbagai macam kepentingan umum dalam bentuk peran serta, kerjasama dan koordinasi.
Secara rinci ilmu kewarganegaraan membahas tentang konsep, teori, paradigma tentang peranan warga negara dalam berbagai aspek kehidupan; bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Permasalahan yang dikaji berkenaan dengan hubungan warga negara dengan negara, yang terlibat secara timbal balik dengan hampir seluruh kegiatan dasar manusia (Basic Human Activities) dalam bidang dan kegiatan: politik, ekonomi, hukum, komunikasi, transportasi, keamanan dan ketertiban, kesehatan, serta nilai-nilai kesenian dan agama.


Selasa, 07 Mei 2013

PERKALIAN DAN PEMBAGIAN UNTUK SD KELAS 2 SEMESTER 2



Secara matematika yang dimaksud dengan perkalian adalah penjumlahan berulang
dari bilangan-bilangan yang sama pada setiap sukunya.
Di SD, perkalian pertama yang diajarkan adalah perkalian dengan hasil sampai
dengan 50. Itu berarti objek yang dikalikan adalah bilangan 1 sampai dengan 50
sedangkan pengalinya adalah bilangan-bilangan dari 1 sampai dengan 10. Urutan
mana yang didahulukan tidak begitu penting, yang penting peserta didik dapat
mengikutinya secara menyenangkan. Berikut ini adalah contoh pendekatan
kontekstual untuk perkalian terhadap bilangan 4. Pertanyaannya dapat
disampaikan secara lisan, peragaannya dengan gambar-gambar (ditempel di papan
tulis meggunakan lakban), dan prosesnya dapat diikuti secara interaktif. Berikut
adalah contoh pendekatan kontekstual untuk perContoh
Awalilah pembelajaran dengan pertanyaan-pertanyaan berikut!
Anak-anak, pernahkah kalian melihat kambing?
Kalau pernah, coba kambing itu kakinya berapa?
Kalau kambingnya dua, banyak kaki seluruhnya ada berapa?
Kalau kambingnya tiga, banyak kaki seluruhnya ada berapa?
Setelah pertanyaan direspon oleh peserta didik, guru kemudian dapat mulai
menempelkan gambar-gambar kambing yang telah disiapkan mulai dari 1
kambing, 2 kambing, hingga 3 kambingkalian terhadap bilangan 4.
Langkah-langkah pembelajaran berikutnya
Tempelkan di papan tulis gambar-gambar kumpulan kambing mulai dari 1 hingga
3 kambing.



   2 kambing                                                1 kambing                                                        3 kambing

                                
 
                                kakinya ada
                                4 + 0 = 4 atau 4 x 1 = 4
                                

 


mempunya 8 kaki
 4  + 4 atau 4 x 2 = 8



                                                                                                                                          kakinya ada 12

                                                                                                                                     4+4+4=12 atau 3x4





Perhatikan bahwa jawaban banyak kaki seluruhnya untuk 2 kambing = 8 dan
banyak kaki seluruhnya untuk 3 kambing = 12 ada kemungkinan antara peserta
didik yang satu dengan yang lain berbeda cara berpikirnya (berbeda konstruksi
dalam pikirannya). Misalnya sebagai berikut.
2 kambing, banyak kaki seluruhnya = 8
Konstruksi I: 8 karena membilang kaki kambing satu demi satu sehingga
diperoleh hasil 8.
Kostruksi II: 8 karena kambing I kakinya 4 ditambah kambing II kakinya 4
sehingga jumlah kakinya 8.
3 kambing, banyak kaki seluruhnya = 12
Konstruksi I: 12 karena membilang kaki kambing satu demi satu sehingga
diperoleh hasil 12
Konstruksi II: 12 karena kambing I kakinya 4 ditambah kambing II kakinya 4
ditambah kambing III kakinya 4.
Konstruksi III: 12 karena kaki 2 kambing sebelumnya sudah dihitung = 8
ditambah kambing ketiga kakinya 4 sehingga hasilnya 12.
Guru kemudian memberikan konfirmasi bahwa banyaknya kaki untuk:
1 kambing = 4 sebab 4 adalah fakta
2 kambing = 8 sebab 8 = kaki kambing I + kaki kambing II = 4 + 4
3 kambing = 12 sebab 12 = kaki kambing I + kaki kambing II + kaki kambing III
= 4 + 4 + 4.
Selanjutnya guru memberikan arahan apabila 1 kambing kakinya 4 artinya banyak
kaki seluruhnya untuk:
1 kambing = 1 × 4 … (dibaca 1 kali 4)
2 kambing = 2 × 4 … (dibaca 2 kali 4)
3 kambing = 3 × 4 … (dibaca 3 kali 4, dan seterusnya)
Dari peragaan dan bentuk perkalian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak kaki
seluruhnya untuk:
1 kambing = 1 × 4 = 4
2 kambing = 2 × 4 = 8 (sebab kaki kambing I + kaki kambing II = 4 + 4)
3 kambing = 3 × 4 = 12 (sebab kaki kambing I + kaki kambing II + kaki
kambing III = 4 + 4 + 4 = 12, atau “jumlah
sebelumnya + 4“ yakni = 8 + 4 = 12)
4 kambing = 4 × 4 = … jawaban yang diharapkan = 16
5 kambing = 5 × 4 = … jawaban yang diharapkan = 20
6 kambing = 6 × 4 = … jawaban yang diharapkan = 24
7 kambing = 7 × 4 = … jawaban yang diharapkan = 28
8 kambing = 8 × 4 = … jawaban yang diharapkan = 32
9 kambing = 9 × 4 = … jawaban yang diharapkan = 36
10 kambing = 10 × 4 = … jawaban yang diharapkan = 40

Pada perkalian lanjut (perkalian yang melibatkan bilangan lebih dari 1 angka)
kaidah yang menjadi dasar penerapan adalah sifat-sifat pada perkalian yaitu
komutatif (bolak-balik sama), distributif (penyebaran), dan asosiatif
(pengelompokan).
1. Sifat komutatif (bolak balik sama)
a x b = b x a
Ilustrasi
Perhatikan susunan gambar-gambar ayam berikut

 

 3 x 2 = 6

 
 
 2 x 3 = 6
jadi 3 x 2 = 2 x 3 = 6 => a x b = b x a atau 3 x 2 = 2 x 3 merupaka perkalian bersifat komutatif.

2. Sifat distributif (penyebaran)
i. a ×(b + c) = (a × b) + (a× c)
ii. a ×(b + c + d) = (a × b) + (a × c) + (a × d)
Ilustrasi dengan pendekatan luas persegi panjang seperti berikut.
i. a ×(b + c) = (a × b) + (a× c)
contoh :
2 x 43 = ........
penyelesaian :
2 × 43 = 2 ×(40 + 3)
= (2 × 40) + (2 × 3)
= 80 + 6
= 86
Demikianlah konsep/pengertian mengapa:
2 × 43 = 86. Dengan teknik bersusun:
pilihan  satuan
    4           3
                 2
___________x
8               6
 Sifat Asosiatif
Contohnya:
(a x b ) x c  = a x ( b x c )
( 5 x 6 ) x 2 = 5 x ( 6 x 2)
30 x 2 = 5 x 12
60            60

Pembagian
Pembagian di SD mulai diajarkan di kelas 2 semester 2, tepatnya setelah pelajaran
perkalian dasar diberikan secara tuntas dari konsep hingga keterampilan
mengalikan 2 bilangan 1 angka. Menurut falsafah Cina (1) I hear and I forget (saya
mendengar dan saya lupa), (2) I see and I remember (saya melihat dan saya ingat),
dan (3) I do and I understand (saya mempraktikkan dan saya mengerti). Maka
untuk membuat peserta didik mengerti akan makna dari suatu konsep seperti
pembagian, mereka harus diberikan pengalaman nyata di awal pembelajaran
tentang apa yang dimaksud dengan pembagian?
contoh : 6 : 2 = ......
penyelesaian :
6 : 2 =....
                     
                                   kelompok 1                                                    



                     kelompok 2
                
                                 kelompok 3

maka 6 : 2 = 3

Catatan
Akibat dari definisi (aturan membagi sama banyak) tersebut adalah:
Dari sebuah kumpulan benda sebanyak a tersebut jika pengambilan berulang
yang dilakukan untuk dibagi rata itu setiap kalinya sebanyak b anggota, dan jika
banyaknya kali pengambilan sampai habis itu adalah c kali, maka kalimat
matematika yang bersesuaian dengan pembagian tersebut adalah
a : b = c. 
Pembelajaran awal pembagian yang dibenarkan adalah (1) diberikan
pengalaman membagi (yang benar menurut konsep matematika), (2) anak
diajak mengamati hasil-hasil praktek membagi tersebut untuk melihat pola yang
menghubungkan antara bilangan yang dibagi, pembagi, dan hasil baginya, (3)
anak diberi kesempatan untuk menyimpulkan apa hubungannya antara bilangan
depan, tengah, dan belakang (bilangan yang dibagi, pembagi, dan hasil
baginya). Kesimpulan yang dimaksud adalah
Bilangan depan = tengah × belakang, atau
Bilangan yang dibagi = pembagi × hasil bagi

SIFAT-SIFAT PEMBAGIAN PADA BILANGAN BULAT

1. UNSUR IDENTITAS
    Unsur identitas adalah 1 = a:1 = a
                                                 -5:1 = -5
2. PEMBAGIAN BILANGAN DENGAN O
    Pembagian bilangan dengan 0 hasilnya tidak didefinisikan


. Pembagian dua bilangan bertanda sama
Contohnya
Nilai positif dibagi positif hasilnya positif
10 : 2 = 5
Nilai  dibagi negatif dibagi negafif hasilnya positif
-10 : -2 = 5
2. Pembagian dengan tanda yang berbeda
Contohnya
Nilai positif dibagi dengan negatif hasilnya negatif
15 : -3 = -5